Posted by: Indonesian Children | February 8, 2010

WHO menganjurkan pengobatan dini dan secara bertahap menghentikan penggunaan d4T

WHO menganjurkan pengobatan dini dan secara bertahap menghentikan penggunaan d4T

Oleh: Keith Alcorn

Setiap orang yang didiagnosis terinfeksi HIV harus mulai pengobatan saat jumlah CD4-nya turun di bawah 350. Hal itu diumumkan oleh WHO dalam pedoman barunya.

Pedoman itu menggantikan pedoman yang terdahulu untuk berpenghasilan rendah dan menengah yang menganjurkan pengobatan bagi orang dengan gejala penyakit HIV lanjut, atau jumlah CD4 di bawah 200 tanpa gejala penyakit HIV.

Pedoman yang baru juga menganjurkan pengobatan antiretroviral (ART) dengan rejimen berbasis efavirenz untuk setiap orang dengan TB, dengan ART dimulai segera setelah pengobatan TB.

Orang koinfeksi hepatitis B dan HIV yang membutuhkan pengobatan infeksi hepatitis B juga harus menerima ART dengan rejimen yang mengandung tenofovir dan 3TC atau FTC, terlepas pada jumlah CD4-nya.

Pedoman baru ini bertujuan menyelaraskan pedoman pengobatan di negara berpenghasilan rendah dan menengah dengan pedoman pengobatan di Eropa, Amerika Utara dan Australia, di mana pengobatan dini sudah lazim selama beberapa tahun ini.

Pedoman baru ini juga menyarankan semua negara harus menghentikan secara bertahap penggunaan d4T sebagai pengobatan lini pertama karena d4T sering mengakibatkan toksisitas berat. Toksisitas, misalnya neuropati perifer (kerusakan saraf) dan lipoatrofi (kehilangan lemak) sering tidak dapat disembuhkan. Menurut WHO, d4T masih dipakai oleh lebih dari separuh program pengobatan di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Pedoman baru ini dilengkapi dengan pedoman baru untuk pengobatan bagi ibu untuk mencegah penularan HIV dari ibu-ke-bayi (mother-to-child transmission/MTCT), dan tentang menyusui bayi.

Ibu yang tidak membutuhkan ART untuk kesehatannya sendiri kini memenuhi kriteria untuk menerima obat antiretroviral (ARV) selama kehamilan dan selama menyusui.

Ibu HIV-positif tidak lagi perlu didorong untuk menyapih bayinya lebih dini. Sebaliknya, WHO kini menyarankan menyusui bayi HIV-negatif selama 12 bulan, agar memastikan bahwa bayi mendapatkan manfaat yang lebih banyak dari menyusui. Walaupun pemberian susu formula tidak dilarang, hal itu menjadi kebijakan masing-masing negara untuk mendorong satu kebijakan bagi semua ibu, tergantung pada keadaan setempat.

Pengobatan dini

WHO menerbitkan pedoman pengobatan di rangkaian terbatas sumber daya pada 2003 dan memperbaruinya pada 2006.

Fokus pedoman yang mula-mula adalah peningkatan ART dengan pendekatan kesehatan masyarakat – pemberian resep yang dibakukan yang dapat diterapkan oleh semua sistem kesehatan, walau sangat miskin sumber daya. Pedoman 2003 menekankan bahwa kriteria untuk ART ditentukan oleh gejala penyakit HIV lanjut – yang disebut – penyakit WHO stadium 4.

Tekanan agar WHO menyarankan pengobatan dini sudah berkembang selama beberapa tahun. Perubahan pada pedoman mulai tampak pada awal 2009 ketika penelitian CIPRA HT 001 di Haiti dihentikan. Penelitian yang didukung oleh AS itu dirancang untuk menilai apakah pengobatan dini, mulai pada batas jumlah CD4 350, berdampak besar pada penurunan tingkat kematian dan penyakit di rangkaian berpenghasilan rendah. Penelitian itu dihentikan lebih awal setelah analisis sementara menunjukkan angka kematian yang jauh lebih rendah pada kelompok pengobatan dini.

Pada Juni 2009 Dr. Kevin M de Cock, ketua departemen HIV WHO mengatakan dalam pertemuan HIV Implementers 2009 di Windhoek, Namibia: “Dunia tidak dapat membiarkan dua tingkatan pada sistem pengobatan HIV dunia dengan tetap menunda mulai ART dan memakai obat yang sudah ketinggalan zaman untuk negara di Selatan.”

Pedoman saat ini, diterbitkan lebih awal sebelum penerbitan pedoman ART untuk orang dewasa yang lengkap pada 2010, menekankan penggunaan jumlah CD4 untuk menentukan kriteria pada ART, menggantikan pedoman sebelumnya.

Pengobatan sekarang harus dimulai apabila jumlah CD4 turun di bawah 350, terlepas ada gejala penyakit HIV atau tidak.

Pengalihan ke ART dini perlu didukung dengan investasi yang lebih besar pada pemantauan dengan tes laboratorium, dan pedoman baru menganjurkan bahwa apabila tersedia, pemantauan viral load harus dilakukan setiap enam bulan dan pengobatan harus diganti apabila viral load meningkat di atas 5.000. Namun, WHO menyatakan bahwa akses pada pengobatan tidak boleh ditolak apabila pemantauan dengan tes laboratorium tidak tersedia.

Walaupun anjuran untuk pengobatan dini berpotensi meningkatkan jumlah orang yang membutuhkan pengobatan, penggunaan pengobatan akan tergantung pada peningkatan pelaksanaan konseling dan tes secara sukarela (voluntary counselling and testing/VCT). Saat ini, di negara berpenghasilan rendah dan menengah orang mulai ART dengan jumlah CD4 di bawah 200. ART LINC, gabungan penelitian kohort internasional melaporkan bahwa rata-rata jumlah CD4 saat mulai ART pada 2006 adalah 122 di Afrika sub-Sahara, 134 di Asia, dan 197 di Amerika Latin.

Seorang dokter yang berpengaruh di Afrika Selatan, Dr. Francois Venter mengatakan dalam Konferensi International AIDS Society pada Juli 2009, untuk Afrika Selatan, prioritasnya adalah agar orang memakai pengobatan, bukan pengobatan dini, dan walau terjadi peningkatan tajam pada tes HIV di Afrika Selatan dalam beberapa tahun ini, terlalu banyak pasien yang mangkir setelah didiagnosis, hanya kembali setelah sakit berat.

Kemampuan negeri untuk menawarkan pengobatan dini juga dipertanyakan, dengan upaya membuka pendaftaran pengobatan di beberapa negara karena kekurangan dana. Namun, WHO mengatakan bahwa peningkatan biaya tambahan satu hingga dua tahun memakai ART – perkiraan tambahan masa penggunaan pengobatan – sebagian mungkin diimbangi oleh penurunan biaya rumah sakit dan kematian, peningkatan produktivitas karena jarang sakit, lebih sedikit anak yatim piatu akibat AIDS dan penurunan infeksi HIV baru akibat penekanan viral load.

Analisis ekonomi untuk Afrika Selatan, diterbitkan di awal tahun 2009, memperkirakan bahwa pengobatan dini sejalan dengan anjuran WHO akan membebani Afrika Selatan sejumlah 1,5 miliar dolar AS selama lima tahun apabila sistem kesehatan di Afrika Selatan berhasil mendiagnosis dan mengobati setiap orang yang memenuhi kriteria untuk pengobatan, dan 1,1 miliar dolar AS apabila separuh yang memenuhi kriteria untuk pengobatan, menerimanya.

Menghentikan d4T secara bertahap

WHO kini menyarankan agar program pengobatan nasional harus menghentikan secara bertahap penggunaan d4T sebagai pengobatan lini pertama akibat toksisitas berat yang sangat sering terjadi. Obat itu menjadi obat yang bertahan pada peningkatan pengobatan di rangkaian terbatas sumber daya karena harganya murah dan tersedia dalam kombinasi dosis tetap versi generik.

Sebagai gantinya, program pengobatan harus memakai tenofovir atau AZT. Namun, kedua obat tersebut lebih mahal dibandingkan d4T, dan tenofovir, hanya tersedia dalam kombinasi tiga jenis obat dosis tetap dengan efavirenz, juga lebih mahal dibandingkan obat lain yang dipakai dalam program peningkatan pengobatan, nevirapine. WHO mengakui dalam pernyataannya bahwa penerapan anjuran tersebut akan tergantung pada keadaan negara, sumber daya dan prioritas.

Ringkasan: WHO recommends earlier treatment and phase-out of d4T

Sumber: World Health Organization Rapid advice: antiretroviral therapy for HIV infection in adults and adolescents. November 30, 2009. Download at http://www.who.int/hiv/pub/arv/advice/en/index.html.
ART LINC Cohort Collaboration. Antiretroviral therapy in resource-limited settings 1996 to 2006: patient characteristics, treatment regimens and monitoring in sub-Saharan Africa, Asia and Latin America. Trop Med Int Health 13(7):870-9, 2008.

FIGHT AGIANST AIDS, THE CHILDREN INDONESIA


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: