Posted by: Indonesian Children | February 8, 2010

Bayi tanpa HIV yang lahir dari ibu dengan HIV tidak mengalami masalah pertumbuhan

Bayi tanpa HIV yang lahir dari ibu dengan HIV tidak mengalami masalah pertumbuhan

Carole Leach-Lemens

Sumber : aidsmap.com

Tgl. laporan: 10 Desember 2009

Anak-anak yang terpajan HIV tetapi tidak terinfeksi tumbuh berkembang sama seperti anak-anak dari ibu yang tidak terinfeksi HIV, tidak peduli bagaimana pola pemberian makanan mereka pada dua tahun pertama kehidupan. Hal ini dikemukakan oleh Deven Patel dan rekan yang melakukan studi kohort non acak di KwaZulu Natal, Afrika Selatan dari tahun 2001-2004. Hal ini diungkapkan dalam jurnal online AIDS.

ASI eksklusif secara signifikan meningkatkan kesehatan jangka panjang anak-anak yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV. Hal ini memberikan dukungan lebih lanjut kepada revisi panduan pemberian makanan bayi Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) yang terbaru.

Perkembangan yang buruk dan penurunan angka kelangsungan hidup lebih mungkin terjadi pada anak yang terinfeksi HIV. Rata-rata berat bayi lahir rendah lebih banyak diamati dari anak yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV dibandingkan dengan anak yang lahir dari ibu yang tidak terinfeksi HIV.

Namun, hanya sedikit yang diketahui mengenai pertumbuhan selanjutnya dari anak-anak yang terpajan HIV tetapi tidak terinfeksi di Afrika. Studi di Eropa telah menunjukkan pola pertumbuhan normal dari populasi ini, dimana beberapa studi di Afrika menunjukkan pola pertumbuhan yang lebih rendah.

Di negara dengan pendapatan rendah dan menengah dengan angka prevalensi HIV yang tinggi, prediksi kematian dilihat melalui angka kurang gizi dan perkembangan awal yang buruk.

Pola pemberian makanan bayi mempengaruhi pertumbuhan; rata-rata berat anak-anak yang menerima ASI lebih tinggi daripada kebanyakan anak-anak yang diberi susu formula pada setengah tahun pertama kehidupan.

Para penulis menyatakan bahwa belum ada penelitian yang membandingkan pertumbuhan anak-anak yang terpajan tetapi tidak terinfeksi HIV dengan pertumbuhan anak-anak yang dilahirkan dari ibu tidak terinfeksi HIV di Afrika dalam studi kohort yang besar. Selain itu pola pemberian makanan pada tahun pertama kehidupan yang mempengaruhi pola perkembangan belum pernah diteliti dengan lebih lanjut dalam populasi ini.

Dalam kohort non acak ini, anak-anak dari ibu yang terinfeksi HIV ditimbang dan diperiksa status HIV-nya sejak lahir sampai usia sembilan bulan setiap bulannya, dan setiap tiga bulan pada usia bayi sepuluh sampai 24 bulan. Praktek pemberian makanan bayi sehari-hari dicatat setiap minggu.

Hal ini memungkinkan analisis yang detail dan unik terhadap peningkatan berat badan anak yang lahir dari ibu yang terinfeksi dibandingkan anak yang lahir ibu yang tidak terinfeksi HIV dari latar yang sama.

Prevalensi HIV di antara perempuan hamil di daerah studi adalah sekitar 40%. Tingginya tingkat pemberian ASI eksklusif dicapai dengan durasi rata-rata 175 minggu tanpa memandang status HIV ibu.

Tujuan penelitian ini, ditekankan oleh penulis, adalah tidak untuk menggambarkan pertumbuhan anak-anak di KwaZulu Natal dibandingkan dengan latar lain tetapi untuk menentukan apakah status HIV ibu dan cara pemberian makanan bayi akan memberikan perubahan dalam perkembangan jangka panjang dari anak. Jadi penulis sengaja mengembangkan standar acuan mereka sendiri dan tidak menggunakan metodologi WHO.

1.261 anak-anak yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV berkembang sebaik 1.061 anak-anak yang lahir dari ibu yang tidak terinfeksi, terlepas dari cara pemberian makanannya.

Anak-anak yang terinfeksi HIV memiliki berat badan yang lebih rendah daripada anak-anak yang terpajan namun tidak terinfeksi HIV (perbedaan pada usia 52 minggu adalah 420 gram pada anak laki-laki dan 405 gram pada anak perempuan).

Penting dalam temuan ini adalah fakta bahwa anak-anak yang terpajan HIV tetapi tidak terinfeksi memiliki tingkat pertumbuhan sebaik anak-anak yang lahir dari ibu yang tidak terinfeksi HIV. Para penulis mencatat hal ini penting karena dua alasan:

Dari sekitar 40% dari bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV di Afrika Selatan, sebagian besar anak akan terpajan tetapi tidak terinfeksi. Sementara, pertumbuhan dan perkembangan anak-anak ini sering diabaikan.

Penelitian lain menunjukkan bahwa di daerah-daerah pedesaan yang miskin, anak-anak yang tidak terinfeksi HIV memiliki risiko kematian dan kesakitan yang lebih tinggi daripada anak-anak yang lahir dari ibu yang tidak terinfeksi. Studi ini dilakukan di tujuh pedesaan, satu semi-perkotaan dan satu klinik perawatan kesehatan primer kota.

Perkembangan bayi dan pemberian makanan bayi

Bayi yang terinfeksi HIV yang diberikan ASI memiliki angka berat badan yang lebih tinggi daripada anak-anak yang tidak diberikan ASI terutama pada enam bulan pertama kehidupan. Perbedaannya adalah 130 gram untuk anak laki-laki dan 110 gram untuk anak perempuan.

Beberapa perempuan terinfeksi HIV yang memilih untuk memberikan susu formula diberikan konseling secara baik dan memiliki keadaan keuangan yang mapan sehingga mampu memberikan susu formula dengan cara yang higienis.

Perkembangan anak dan kesehatan ibu

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bayi meliputi:

Status HIV ibu (angka berat bayi lahir lebih rendah pada anak dengan ibu yang terinfeksi HIV)

Berat badan ibu (anak dengan ibu yang memiliki badan yang lebih berat secara konsisten memiliki berat bayi lahir yang lebih dibandingkan dengan anak yang lahir dari ibu yang lahir dengan berat badan yang lebih rendah)

Bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV dengan penyakit lanjut (jumlah CD4 <200 sel/ml) selalu memiliki berat yang kurang.

Temuan ini mendukung identifikasi dini dan segera mulai antiretroviral (ARV) pada ibu hamil yang terinfeksi HIV dengan jumlah CD4 yang rendah untuk menurunkan jumlah virus, meningkatkan kekebalan tubuh dan meningkatkan status gizi anak. Hal ini dapat mendukung kelangsungan hidup dan kesehatan jangka panjang ibu dan anak.

Perkembangan anak yang terinfeksi HIV

Anak yang terinfeksi HIV, secara tidak mengejutkan memiliki berat badan yang kurang dibandingkan anak-anak yang terpajan namun tidak terinfeksi HIV. Perbedaan ini berlanjut sampai anak-anak mencapai usia 6-9 bulan.

Para penulis mencatat penelitian di Eropa menunjukkan perbedaan yang sama sampai anak-anak mulai pengobatan antiretroviral dan memiliki peningkatan perkembangan. Tantangan utama adalah mengidentifikasi anak yang terinfeksi sedini mungkin dan mengobati mereka segera setelahnya.

Para penulis menyimpulkan bahwa dengan “konseling yang baik dan tepat mengenai pilihan pemberian makanan dan dukungan praktik pemberian makan yang optimal, anak-anak yang terpajan namun tidak terinfeksi HIV bertumbuh sama baiknya dengan anak-anak dari ibu yang tidak terinfeksi HIV.

Dan, sesuai dengan rekomendasi WHO baru-baru ini, mereka menyimpulkan: “Temuan ini memperkuat rekomendasi pemberian ASI eksklusif untuk ibu terinfeksi HIV di rangkaian miskin sumber daya, untuk jangka panjang kesehatan anak.”

Ringkasan: Infants without HIV suffer no growth check, despite maternal infection

Sumber: Patel D et al. Breastfeeding, HIV status and weights in South African children: a comparison of HIV-exposed and unexposed children. AIDS 24 (advance online publication), 2010

FIGHT AGAINST AIDS THE CHILDREN INDONESIA


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: