Posted by: Indonesian Children | February 7, 2010

Mengapa pria yang disunat memiliki kemungkinan lebih kecil untuk terinfeksi HIV: Perubahan bakteri

Mengapa pria yang disunat memiliki kemungkinan lebih kecil untuk terinfeksi HIV: Perubahan bakteri pada mikrobioma penis

Sumber : ScienceDaily

Sunat, yang secara substansial menurunkan risiko HIV pada laki-laki, juga secara dramatis mengubah komunitas bakteri (mikrobioma) pada penis. Hal ini berdasarkan penelitian yang dipimpin oleh ilmuwan di Translational Genomics Research Institute (TGen) dan Johns Hopkins University dan diterbitkan dalam jurnal ilmiah PLoS ONE edisi Januari 6 2010.

Perubahan bakteri ini mungkin berkaitan dengan pengamatan sebelumnya bahwa perempuan yang pasangan laki-lakinya disunat memiliki kemungkinan lebih kecil untuk mengembangkan vaginosis bakteri, suatu ketidakseimbangan antara bakteri baik dan bakteri yang merugikan.

Penelitian dapat mengarah ke strategi pencegahan HIV non-bedah untuk 70% pria di seluruh dunia (lebih dari 2 milyar) yang, karena keyakinan agama atau budaya, atau hambatan logistik atau keuangan, tidak memungkinkan untuk disunat.

“Hal ini memberikan konsekuensi kesehatan masyarakat yang penting,” kata Dr. Lance B. Price, Direktur TGen’s Center for Metagenomics and Human Health dan rekan penulis utama makalah ilmiah, yang menggambarkan penilaian molekul pertama di dunia terhadap keragaman bakteri dari organ reproduksi laki-laki.

Studi baru ini merupakan bagian dari upaya yang lebih besar oleh US National Institutes of Health untuk mempelajari dan menguraikan “mikrobioma manusia” – mikroba yang ada secara kolektif pada dan dalam tubuh manusia. Proyek-proyek lain yang terfokus pada mikrobioma melibatkan kulit, hidung, mulut, saluran pencernaan dan saluran genitourinary perempuan. Bersama-sama, tujuan dari proyek ini adalah untuk menentukan berbagai peran mikroba dalam kesehatan manusia dan penyakit.

Dalam menyelidiki dampak sunat laki-laki pada mikrobioma penis, sebuah tim kolaboratif dari TGen dan Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health menemukan untuk pertama kalinya bahwa sunat secara signifikan mengubah mikrobioma penis.

Penelitian epidemiologi lain menunjukkan bahwa sunat laki-laki berhubungan dengan pengurangan yang signifikan dalam penularan HIV pada pria.

Bukti yang paling kuat untuk hubungan penyebab dan dampak antara sunat dan pengurangan risiko HIV berasal dari tiga uji coba terkontrol secara acak di sub Sahara Afrika, dimana tingkat sunat relatif rendah dan tingkat infeksi HIV relatif tinggi. Ketiga uji coba tersebut menunjukkan lebih dari 40% pengurangan risiko penularan HIV di antara laki-laki yang disunat.

Studi terbesar di antara ketiga studi ini dilakukan di Rakai, Uganda dipimpin oleh Dr. Ronald H. Gray, seorang ahli epidemiologi di Johns Hopkins dan penulis makalah ilmiah senior. Tim Dr. Gray mengumpulkan sampel sekaan penis (penile swabs) dari semua partisipan studi yang disunat, yang memberikan data baru untuk studi TGen-Johns Hopkins.

Studi baru menemukan bahwa sunat – membuang kulup, atau kulit khatan, dari penis – menghilangkan daerah selaput lendir dan secara dramatis mengubah ekosistem bakteri pada penis. Secara signifikan, analisis TGen untuk lebih dari 40 jenis bakteri, menggunakan pendekatan 16S rRNA gen-pyrosequencing, menyatakan bahwa paparan terhadap oksigen setelah sunat mengurangi kehadiran bakteri anaerob (tanpa oksigen) dan meningkatkan bakteri aerob (memerlukan oksigen).

“Studi ini dengan jelas menunjukkan bahwa sunat laki-laki secara nyata mengurangi kolonisasi bakteri anaerob pada laki-laki,”kata Dr. Gray, Profesor Population and Family Planning di William G. Robertson Jr di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health.

“Bakteri ini, yang tidak dapat tumbuh dengan adanya oksigen, telah terlibat dalam peradangan dan sejumlah infeksi yang mempengaruhi baik pria maupun perempuan. Uji acak telah menunjukkan bahwa sunat mencegah infeksi HIV pada laki-laki dan melindungi pasangan perempuan mereka dari infeksi vagina, terutama vaginosis bakteri. Hal ini mungkin disebabkan oleh penghapusan bakteri anaerob melalui sunat, Dr. Gray mengatakan.

Beberapa mekanisme telah diusulkan mengenai bagaimana sunat mengurangi penularan HIV pada laki-laki:

“Penjelasan potensial ini tidak saling eksklusif dan dapat bekerja sama untuk mengurangi risiko HIV,” kata Dr. Price, rekan peneliti TGen’s Pathogen Genomics Division.

Studi baru menemukan bahwa bakteri tertentu didefinisikan secara taksonomi sebagai bakteri anaerob mendominasi mikrobiota sulkus penis sebelum disunat. Namun, setelah disunat, bakteri ini menurun drastis.

“Dengan demikian, penurunan bakteri anaerob setelah sunat mungkin memainkan peran dalam perlindungan dari HIV dan infeksi menular seksual lainnya,” studi menyimpulkan.

Bakteri yang terbentuk dari ketiadaan atau tingkat oksigen yang lebih rendah dapat berhubungan dengan peradangan dan aktivasi dari sel Langerhan. Sel ini, yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh, bekerja untuk menangkap dan mengurangi virus ketika mereka sedang dalam keadaan tidak aktif. Tetapi sekali diaktifkan, sel Langerhan diarahkan untuk membantu infeksi HIV dengan cara menyajikan virus kepada sel CD4.

Sunat tetap menjadi prosedur yang kontroversial yang memiliki banyak pro dan kontra. Mereka yang mendukung sunat mengungkapkan banyak studi yang menunjukkan risiko yang lebih rendah untuk infeksi menular seksual yang berkaitan dengan sunat. Mereka yang menentang sunat mengungkapkan potensi bahaya dari prosedur sunat dan juga keprihatinan budaya.

Studi baru ini menunjukkan bahwa sunat secara signifikan mengubah ekologi bakteri pada penis.

“Konsep bakteri baik dan bakteri merugikan adalah penting untuk mempelajari mikrobioma manusia. Pekerjaan kami menunjukkan bahwa profil dari bakteri penis masyarakat berubah secara signifikan setelah sunat,” ujar Dr. Cindy M. Liu, seorang dokter dan peneliti di TGen dan Northern Arizona University. Dia adalah rekan penulis dari studi ini.

“Dengan penurunan jumlah bakteri anaerob, kami melihat peningkatan yang sejalan dari proporsi spesifik lain dari bakteri anaerob dan aerob. Hal ini menunjukkan bahwa menghilangkan bakteri yang merugikan mungkin hanya setengah dari tindakan yang diperlukan. Memastikan bahwa celah yang ditinggalkan oleh bakteri anaerob sebelum sunat dipenuhi dengan bakteri baik juga menjadi kritis, “kata Dr. Liu.

Peneliti TGen dan Johns Hopkins berencana untuk melakukan lebih banyak penelitian untuk menentukan apakah bakteri spesifik dikaitkan dengan peningkatan risiko HIV dan apakah bakteri tersebut dapat dihilangkan dengan menggunakan strategi non-bedah.

Juga terlibat dalam studi ini adalah: University of Maryland School of Medicine; dan Makerere University’s School of Public Health, Kampala, Uganda.

Referensi utama : Why Circumcised Men Are Less Likely to Become Infected With HIV: Changes in Bacteria Within Penis Microbiome

FIGHT AGAINST AIDS, SAVE THE CHILDREN INDONESIA


Responses

  1. tolong dong para dokter knpa ya penis sya gatal dan mengeluarkan cairan…
    tong dbantu


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: