Posted by: Indonesian Children | July 24, 2009

Anak HIV/AIDS Terus Berlipat

Raihan (3), bocah pengidap HIV/AIDS yang meninggal Selasa (30/6) lalu di RSUD Dr Soetomo ternyata tak sendiri. Jumlah bocah-bocah tak berdosa yang harus hidup dengan virus HIV/AIDS di Surabaya ternyata terus bertambah. Dari hanya 3 orang yang ditemukan pada tahun 2004, angka ADHA (anak dengan HIV/AIDS) berlipat ganda menjadi 27 anak pada tahun 2007 dan 18 anak pada 2008.

Angka lebih ”menyeramkan” terindikasi dari ibu-ibu (perempuan) yang berpotensi menularkan HIV/AIDS pada anaknya. Jumlah anak yang ibunya pengidap HIV/AIDS sejak 2004 terus membengkak. Demikian pula jumlah wanita usia subur yang mengidap virus ini. (lihat tabel) Artinya, jumlah anak-anak tak berdosa yang berpotensi mengidap virus HIV/AIDS juga bakal terus bertambah.

Itu baru data yang tercatat di Unit Perawatan Intermediet Penyakit Infeksi (UPIPI) RSU Dr Soetomo. Belum lagi anak atau ibu-ibu pengidap yang tak terpantau. “Ini fenomena gunung es. Kalau ada 1 pasien yang didiagnosis positif, sebenarnya ada 1.000 lainnya yang kita tidak tahu. Kalau tren anak dengan HIV/AIDS (ADHA) ini naik, itu pasti karena tren pasien HIV juga meningkat dan wanita yang HIV positif di usia subur yang potensial menularkan ke anak-anaknya juga banyak,” kata  dr Dwiyanti Puspitasari, dokter spesialis anak di RSU dr Soetomo saat ditemui Surabaya Post di kediamannya.

Departemen Kesehatan sendiri pada 2006 pernah memperkirakan, tiap hari ada sepuluh bayi yang terlahir dengan HIV. Kesehatan bayi tersebut paling rentan pada tahun pertama kehidupannya, dan sepertiganya berpotensi meninggal sebelum berusia satu tahun, umumnya tanpa didiagnosis HIV.

Peningkatan jumlah kasus ADHA terjadi akibat semakin banyak perempuan yang terinfeksi HIV (lihat tabel), sehingga kian banyak pula anak yang terlahir dengan HIV. Walaupun ada banyak cara mencegah penularan HIV dari ibu-ibu ke bayi, namun intervensi hanya dapat dilakukan bila ibu diketahui mengidap HIV sebelum melahirkan.

Namun kebanyakan perempuan yang terinfeksi belum mengetahui status HIV-nya waktu melahirkan, dan baru dicurigai HIV bila bayinya sering sakit atau tidak tumbuh sebagaimana mestinya.

’’Jumlah kasus baru dari tahun ke tahun meningkat karena kesadaran orang semakin baik, pengetahuan mengenai HIV/AIDS semakin tinggi sehingga kecurigaan bisa diantisipasi lebih dini” ujar dr Dwiyanti Puspitasari

Kebanyakan pasien ADHA di RSU dr Soetomo berusia 1-2 tahun dan sebagian besar penularannya melalui vertical transmission (dari ibu ke anaknya). Menurut dr Dwiyanti, ada 4 stadium infeksi HIV/AIDS. Pada stadium 1 dan 2 gejalanya masih ringan atau bisa tanpa gejala. Biasanya stadium ini disebut infeksi HIV positif. Maksudnya, sudah tertular virus HIV yang masuk ke dalam tubuh tapi masih belum menimbulkan gejala penyakit. ”Jadi masih baik-baik saja, belum ada sesuatu yang dirasakan,” katanya.

Sedangkan pada stadium 3 dan 4 disebut sudah infeksi AIDS, sudah muncul gejala yang diakibatkan infeksi HIV. ”Mulai muncul infeksi-infeksi karena yang diserang imunitas tubuh. Akibatnya daya tahan tubuh rendah, diare berkepanjangan, gizi buruk, mulut menjamur dan beberapa infeksi lain bermunculan, tutur dr Dwiyanti.

Pasien anak-anak yang datang ke RS, lanjut dia, kebanyakan sudah berada di stadium 3 dan 4. Mereka umumnya tertulari ibunya. Masalahnya, sang ibu seringkali juga tidak tahu dirinya mengidap HIV (biasanya ditulari suami melalui hubungan intim). ”Karena belum merasakan gejala, ibu-ibu ini juga tidak tahu kalau anaknya juga tertular,” katanya.

Dr Dwiyanti menjelaskan, anak-anak ini kebanyakan dalam kondisi parah atau terlambat. Bila seseorang tertular virus HIV saat dewasa, biasanya akan menjadi AIDS setelah waktu lama (5-10 tahun). Tapi pada anak-anak, dengan daya tahan tubuh belum sempurna, biasanya dalam setahun saja HIV sudah berubah menjadi AIDS.

Jadi kalau waktu lahir itu ketularan, dalam setahun pertama itu sebagian besar sudah jatuh ke AIDS. Tidak heran bila banyak pasien anak sudha berubah menjadi pengidap AIDS karena memang perjalanan penyakitnya lebih cepat dibanding pasien dewasa.

 

sumber : surabayapost,Kamis, 2 Juli 2009

 

Supported by

FIGHT AGAINST  AIDS, SAVE  INDONESIAN CHILDREN

YUDHASMARA FOUNDATION

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

PHONE :62 (021) 70081995 – 5703646

Email : judarwanto@gmail.com 

https://childrenhivaids.wordpress.com/ 

 

Clinical and Editor in Chief :

DR WIDODO JUDARWANTO

email : judarwanto@gmail.com,

 

Copyright © 2009,  FIGHT AGAINST  AIDS, SAVE  INDONESIAN CHILDREN  Information Education Network. All rights reserved.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: