Posted by: Indonesian Children | June 29, 2009

Layanan PMTCT tidak menjangkau sebagian besar ibu HIV-positif yang hamil di negara berkembang

resource : http://kaisernetwork.org/daily_reports/rep_index.cfm?DR_ID=58557

Dua pertiga ibu HIV-positif yang hamil di negara berkembang tidak memiliki akses pada pengobatan untuk mencegah penularan dari ibu-ke-bayi (mother-to-child HIV transmission/MTCT). Masalah itu dapat mengakibatkan 370.000 kasus HIV baru di antara bayi setiap tahun. Hal itu berdasarkan sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal International Treatment Preparedness Coalition. Laporan menyatakan, di antara 1,5 juta ibu hamil yang HIV-positif setiap tahun di negara berkembang, hanya kurang lebih sepertiganya menerima terapi macam apa pun, dan kebanyakan terapi itu tidak sesuai dan tidak berhasil mencegah MTCT.

Berdasarkan laporan itu, delapan tahun setelah pemerintah sedunia berjanji akan mengurangi jumlah kasus HIV pada bayi hingga separuhnya pada 2010, hanya kurang lebih 8% ibu hamil di negara berkembang yang menerima terapi kombinasi tiga jenis (terapi antiretroviral/ART) secara lengkap yang dipakai secara luas di negara kaya.

Laporan tersebut menunjukkan kerja sama yang buruk di antara pemerintah dan lembaga donor, serta juga kekurangan dana, sebagai alasan utama banyak ibu yang tidak mendapatkan pengobatan, dikatakan oleh Stephen Lewis, pendiri AIDS-Free World dan penulis bersama laporan itu. Berdasarkan laporan, ada “kekurangan koordinasi dan konsistensi yang mengejutkan” di antara pemerintah dengan lembaga donor, dan kurang lebih 18% ibu hamil di seluruh dunia yang ditawarkan tes HIV pada 2007. Selain itu, ada kekurangan akut pada layanan pencegahan dan konseling bagi para ibu. Ditambahkan bahwa salah satu masalah terbesar adalah ketiadaan konseling mengenai cara memberi makan kepada bayi, karena kebanyakan ibu tidak dikonseling secara sesuai dan kadang saran yang diberikan dapat menimbulkan kerancuan bahwa pemberian susu formula adalah lebih baik daripada menyusui.

Lewis juga mengkritik lembaga kesehatan PBB yang menyatakan bahwa jumlah ibu hamil yang menerima akses pengobatan di negara berkembang telah meningkat. Dia menambahkan bahwa sebagian ibu tersebut tidak memiliki akses pada pengobatan secara lengkap. “Itu hanya membuat akses pengobatan sebagai lelucon,” Lewis mengatakan.

Laporan menemukan bahwa di 61 negara – misalnya Kamerun, Etiopia, India dan Nigeria – lebih dari tiga perempat ibu HIV-positif yang hamil tidak menerima pengobatan apa pun untuk PMTCT. Dikatakan bahwa dunia bertenggang rasa pada “contoh yang memalukan terhadap standar ganda” karena MTCT secara jelas telah hilang di negara maju, karena ibu HIV-positif yang hamil memiliki akses pada rejimen obat secara lengkap.

Kebanyakan ibu HIV-positif yang hamil yang memiliki akses pada layanan pencegahan di negara berkembang menerima nevirapine untuk PMTCT, yang 40% efektif untuk mengurangi penularan. Nevirapine juga dapat mengakibatkan pengembangan jenis HIV yang resistan terhadap obat. Boehringer Ingelheim, yang memproduksi nevirapine, menyediakan ART gratis kepada ibu HIV-positif yang hamil di negara berkembang. Menurut CDC, ketersediaan layanan PMTCT di AS telah mengurangi jumlah kasus HIV pada bayi sebanyak lebih dari 90%.

Pejabat UNAIDS, WHO dan 20 lembaga internasional mengadakan pertemuan di Nairobi, Kenya, untuk meluncurkan kampanye yang bertujuan memperbaiki akses layanan PMTCT, Michel Sidibe, Direktur Eksekutif UNAIDS mengatakan.

Gregg Gonsalves, ketua ITPC, mengatakan, “Bagi jutaan ibu, kesehatan ibu dan anak adalah tentang HIV/AIDS dan kita telah gagal melayani mereka.” Dia menambahkan, “Kegagalan kita untuk mencegah penularan HIV pada bayi sungguh merupakan kegagalan untuk mencegah pengembangan penyakit pada ibu yang hidup dengan HIV. Apabila kita mengobati para ibu secara sesuai, apabila kita mengobati para ibu untuk kesehatan mereka sendiri, kita mungkin hanya memiliki sedikit atau tidak ada penularan HIV pada bayi.” Sidibe mengatakan, “Sudah ada beberapa kemajuan pada layanan PMTCT,” menambahkan, “tetapi jangkauan secara keseluruhan intervensi yang terbukti efektif dan murah ini masih sangat rendah.” Sidibe mengatakan bahwa UNAIDS “sependapat dengan laporan bahwa gabungan stigma, layanan kesehatan yang tidak lengkap, pengetahuan yang tidak cukup di antara komunitas dan kepemimpinan politik yang tidak cukup adalah akar penyebab jangkauan rendah tersebut.” UNAIDS juga menghimbau “pemberian ART yang terjangkau dan secara tepat waktu untuk mencegah MTCT.”

Nicholas Hellmann,wakil direktur eksekutif urusan medis dan ilmu pengetahuan dari Elizabeth Glaser Pediatric AIDS Foundation, mengatakan tingkat pengobatan PMTCT 33% adalah sebuah langkah yang positif. “Saya memilih untuk melihatnya sebagai gelas yang terisi sepertiganya,” Hellmann mengatakan, menambahkan, “Kami berpendapat bahwa yang terbaik adalah memberikan kepada ibu dan bayi rejimen apa pun, dengan tujuan untuk ditingkatkan menjadi kombinasi tiga jenis obat.” Selain itu, Hellmann mengatakan bahwa layanan secara penuh diperlukan untuk mengurangi prevalensi HIV di antara ibu hamil

 

 

Supported by

FIGHT AGAINST  AIDS, SAVE  INDONESIAN CHILDREN

YUDHASMARA FOUNDATION

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

PHONE :62 (021) 70081995 – 5703646

Email : judarwanto@gmail.com 

https://childrenhivaids.wordpress.com/ 

 

Clinical and Editor in Chief :

DR WIDODO JUDARWANTO

email : judarwanto@gmail.com,

 

Copyright © 2009,  FIGHT AGAINST  AIDS, SAVE  INDONESIAN CHILDREN  Information Education Network. All rights reserved.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: