Posted by: Indonesian Children | June 29, 2009

Jangan pakai Gingko dengan efavirenz Pada pendrita HIV AIDS

resource :  : http://www.aidsmap.com/en/news/A6F3B12F-7937-4F9B-BC73-11DA35FB7574.asp, Wiegman D-J et al. Interaction of Gingko biloba with efavirenz. AIDS 23: 1184-85, 2009.

Jamu Ginkgo tidak boleh dipakai dengan obat antiretroviral (ARV) efavirenz. Hal itu diperingatkan oleh peneliti Belanda dalam jurnal AIDS edisi 1 Juni 2009. Mereka melaporkan kasus seseorang yang viral load-nya menjadi terdeteksi dengan pengembangan resistansi obat karena interaksi Ginkgo dengan efavirenz.

Efavirenz adalah salah satu unsur utama pengobatan antiretroviral (ART) lini pertama. Efavirenz memiliki dampak anti-HIV yang kuat, mudah dipakai, memiliki masa paro yang panjang dan biasanya hanya menyebabkan efek samping ringan.

Tubuh memetabolisasikan efavirenz dengan memakai jalur P450 di dalam hati. Obat lain, jamu dan narkoba juga diproses dengan mekanisme tersebut, artinya obat tersebut dapat berinteraksi dengan efavirenz.

Interaksi tersebut ditemukan pada pasien Odha berusia 47 tahun di Amsterdam, Belanda yang mengakibatkan kegagalan virologi terhadap ART yang dipakainya.

Pasien itu sangat patuh pada ART-nya dan melaporkan tidak pernah melewatkan satu dosis pun. ART-nya mengandung efavirenz dikombinasikan dengan FTC (emtricitabine) dan tenofovir. Pasien mulai memakai ART-nya pada 2005.

Di akhir 2007, dia mengalami kegagalan virologi dan muncul K103N dan M184V, mutasi yang resistan terhadap ART yang dipakainya.

Untuk menguji dan menentukan penyebab kegagalan pengobatannya, dokternya menanyakan mengenai penggunaan obat lain dan narkoba. Menjadi jelas bahwa satu-satunya produk yang juga dipakainya adalah Ginkgo biloba.

Dengan memakai contoh darah yang disimpan selama dua tahun penggunaan efavirenz, para peneliti memeriksa kepekatan efavirenz dalam darah pasien.

Kepekatan efavirenz dalam darah pasien menurun dari yang tertinggi 1,26mg/l (cukup tinggi di dalam kisaran terapeutik obat) pada akhir 2006 waktu viral load pasien tidak terdeteksi menjadi 0,48mg/l (tingkat non-terapeutik atau terlalu rendah) pada Februari 2008. Pada saat itu viral load pasien adalah 1.780.

Gingko adalah jamu yang dipakai secara luas yang dianggap bermanfaat pada daya konsentrasi, ingatan, demensia dan depresi. Yang menarik, efavirenz dapat menyebabkan efek samping misalnya tidak dapat berkonsentrasi dan depresi. Kandungan kimia Gingko berarti bahwa, serupa dengan efavirenz, Gingko dimetabolisasikan dengan memakai jalur P450. Sudah diketahui bahwa Gingko berinteraksi dengan obat lain yang diproses oleh tubuh dengan cara itu, contohnya warfarin, aspirin dan ibuprofen.

Para peneliti menulis, “Kami menyimpulkan bahwa penggunaan Gingko dapat mengurangi tingkat efavirenz dalam darah manusia, dapat mengakibatkan kegagalan virologi dan harus dihindari.”

 

 

Supported by

FIGHT AGAINST  AIDS, SAVE  INDONESIAN CHILDREN

YUDHASMARA FOUNDATION

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

PHONE :62 (021) 70081995 – 5703646

Email : judarwanto@gmail.com 

https://childrenhivaids.wordpress.com/ 

 

Clinical and Editor in Chief :

DR WIDODO JUDARWANTO

email : judarwanto@gmail.com,

 

Copyright © 2009,  FIGHT AGAINST  AIDS, SAVE  INDONESIAN CHILDREN  Information Education Network. All rights reserved.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: