Posted by: Indonesian Children | June 20, 2009

ART tidak berdampak buruk pada pertumbuhan janin

sumber : http://www.aidsmap.com

Pengobatan antiretroviral (ART), yang mengandung tiga jenis antiretroviral (ARV) yang dipakai selama kehamilan tidak mempengaruhi pertumbuhan janin di dalam kandungan. Hal itu dilaporkan oleh para peneliti Prancis dalam jurnal AIDS versi internet. Para peneliti berpendapat bahwa penelitian mereka menunjukkan bahwa ART tiga jenis “tidak menyebabkan segala bentuk hambatan pertumbuhan janin di dalam kandungan.”

Risiko penularan HIV dari ibu-ke-bayi (mother-to-child HIV transmission/ MTCT) sekarang sangat rendah. Hal itu sebagian besar berkat ART. Namun demikian, beberapa penelitian menunjukkan bahwa ART tiga jenis selama kehamilan, khususnya yang mengandung PI, mungkin meningkatkan risiko lahir prematur atau bayi lahir dengan berat badan rendah. Namun, hasil yang tidak diinginkan itu belum ditemukan pada penelitian lain.

Para peneliti dari kohort Perinatal ANRS Prancis berpendapat bahwa hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa penggunaan ART selama kehamilan yang menimbulkan efek samping mungkin karena alasan metodologi.

Mereka melakukan penelitian untuk mengamati apakah ART selama kehamilan mempengaruhi pertumbuhan janin di dalam kandungan. Para peneliti berhati-hati untuk memastikan bahwa penelitian mereka memperhitungkan segala faktor pembaur yang mungkin. Oleh karena itu mereka tidak memasukkan bayi yang terinfeksi HIV, bayi kembar, atau bayi yang ibunya memakai narkoba, ke dalam penelitian karena faktor tersebut dapat mempengaruhi pertumbuhan janin di dalam kandungan.

Sejumlah 8.192 bayi HIV-negatif lahir dari ibu yang HIV-positif antara 1990 dan 2006 dilibatkan ke dalam analisis para peneliti.

Jenis ARV yang disarankan dipakai untuk mencegah MTCT berubah secara bermakna selama masa penelitian. Antara 1994 dan 1997, pengobatan itu termasuk monoterapi AZT. Monoterapi AZT digantikan dengan pengobatan dua jenis NRTI, yang selanjutnya diganti dengan ART tiga jenis sejak 2004.

Antara 1994 dan 1997, 80% ibu menerima monoterapi AZT selama kehamilan. Dicerminkan oleh perubahan pada pedoman pengobatan, pengguna monoterapi AZT turun menjadi 19% antara 1999 dan 2004 dan setelah itu menjadi 2%. Proporsi ibu yang menerima ART tiga jenis meningkat setelah beberapa waktu, dari 14% pada 1996-1998, menjadi 90% pada 2005-2006.

Berat badan saat lahir dan usia kehamilan saat kelahiran rata-rata agak menurun dari 3.150g dan minggu ke-39 pada 1996 menjadi 3.050g dan minggu ke-38 dan setelah itu.

Berat badan saat lahir yang disesuaikan dengan usia kandungan meningkat antara 1990 dan 1997 dan setelah itu tetap stabil.  Proporsi bayi yang dinilai sebagai kecil untuk usia kandungan tetap stabil sepanjang masa analisis antara 4-5%.

Para peneliti menemukan tidak ada kecenderungan yang bermakna terhadap penurunan ukuran lingkar kepala bayi setelah beberapa waktu (p = 0,07).

Analisis statistik menunjukkan bahwa risiko bayi dilahirkan dengan ukuran kecil untuk usia kandungan tidak dikaitkan dengan ART yang dipakai.

Dalam upaya mengendalikan faktor pembaur, para peneliti membandingkan risiko bayi berukuran kecil untuk usia kandungan, berdasarkan penggunaan dua pengobatan baku: monoterapi AZT antara 1994 dan 1996 dan ART tiga jenis antara 2005 dan 2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko bayi dilahirkan dengan ukuran kecil untuk usia kandungan adalah serupa pada kedua jenis pengobatan yang dipakai.

Dalam analisis selanjutnya, para peneliti menemukan bahwa baik waktu mulai maupun jangka waktu penggunaan ART tiga jenis, dan unsur ARV yang dipakai selama kehamilan, tidak dikaitkan dengan bayi dilahirkan dengan ukuran kecil untuk usia kandungan. Lebih lanjut, skor tinggi badan dan lingkar kepala sebanding antara bayi yang terpajan pada monoterapi dan ART tiga jenis.

Para peneliti menulis, “Sebagai kesimpulan, hasil kami memberi kesan bahwa penggunaan ART dalam skala besar selama 15 tahun terakhir tidak mempengaruhi pertumbuhan janin.” Namun, mereka menyarankan, “penggunaan ART harus terus dipantau…karena akan terus ada perubahan pada pedoman dan praktek klinis sehubungan dengan petunjuk kapan mulai dan jenis ART yang dipakai oleh ibu hamil.”

 referensi : Briand N et al. No relation between in-utero exposure to HAART and intrauterine growth retardation. AIDS 23 (online edition), 2009.

Supported by

FIGHT AGAINST  AIDS, SAVE  INDONESIAN CHILDREN

YUDHASMARA FOUNDATION

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

PHONE :62 (021) 70081995 – 5703646

Email : judarwanto@gmail.com

https://childrenhivaids.wordpress.com/

 

Clinical and Editor in Chief :

DR WIDODO JUDARWANTO

email : judarwanto@gmail.com,

 

Copyright © 2009,  FIGHT AGAINST  AIDS, SAVE  INDONESIAN CHILDREN  Information Education Network. All rights reserved.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: