Posted by: Indonesian Children | April 17, 2009

Mortalitas bayi terkait HIV/AIDS tertinggi pada usia 2-3 bulan di Afrika Selatan

 

 

http://www.medscape.com/viewarticle/586829

 

“Puncak mortalitas bayi di usia dua-tiga bulan dijadikan petunjuk bagi AIDS pediatrik pada populasi di Afrika Selatan dengan prevalensi HIV yang tinggi dan penyebab kematian lain tidak cukup tinggi untuk menutupi dampak HIV.” Hal itu dikatakan oleh para peneliti di Cape Town, Afrika Selatan.

“Di rangkaian miskin sumber daya seperti di Afrika Selatan, sangat sedikit kematian dengan status HIV yang dikonfirmasi,” Dr. David E. Bourne dari Universitas Cape Town, Selatan Afrika, mencatat. “Oleh karena itu sangat sering penyebab kematian, misalnya pneumonia atau sekadar ‘penyebab yang wajar’ yang dituliskan dalam akta kematian, dan bukan infeksi HIV yang mendasarinya.”

Dr. Bourne adalah penulis utama penelitian yang diterbitkan dalam jurnal AIDS edisi 2 Januari 2009. Dia dan rekannya melakukan peninjauan secara retrospektif terhadap catatan kematian pascakelahiran pada bayi berusia di bawah satu tahun antara 1997-2002. Mereka menganalisis kematian berdasarkan usia bayi dalam hitungan bulan.

Mortalitas pascakelahiran meningkat setiap tahun selama masa penelitian. Para peneliti melihat puncak kematian terkait HIV adalah antara usia dua-tiga bulan.

“Kematian terkait AIDS, sebagaimana tercermin dalam informasi penyebab kematian dalam akta kematian, sehingga sangat meremehkan dampak HIV/AIDS,” Dr. Bourne mengatakan. “Oleh karena itu kami mencari petunjuk AIDS, yang ternyata merupakan puncak mortalitas pada usia dua-tiga bulan, tidak memerlukan penyebab kematian yang tepat untuk memastikannya.”

“Puncak mortalitas pada usia dua-tiga bulan itu sangat terkait dengan prevalensi HIV pada ibu hamil. Hal itu dinyatakan dalam penyebab kematian terkait infeksi HIV dan ketiadaan penyebab kematian yang tidak terkait HIV,” para penelitian Cape Town menulis. “Puncak kematian terjadi waktu anak kehilangan antibodi yang didapatkan dari ibu.”

Temuan penelitian tersebut memiliki “manfaat klinis yang cukup bermakna,” Dr. Bourne menunjukkan, menambahkan bahwa “efektivitas mulai terapi antiretroviral (ART) dini di bawah usia dua bulan telah terbukti. Kasus itu dibuat untuk diagnosis dan pemberian ART lebih dini di rangkaian prevalensi tinggi di mana strategi pencegahan penularan dari ibu-ke-bayi (PMTCT) belum berhasil secara penuh

 

Supported by

FIGHT AGAINST  AIDS, SAVE  INDONESIAN CHILDREN

YUDHASMARA FOUNDATION

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

PHONE :62 (021) 70081995 – 5703646

Email : judarwanto@gmail.com

https://childrenhivaids.wordpress.com/

 

Clinical and Editor in Chief :

DR WIDODO JUDARWANTO

email : judarwanto@gmail.com,

 

Copyright © 2009,  FIGHT AGAINST  AIDS, SAVE  INDONESIAN CHILDREN  Information Education Network. All rights reserved.

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: