Posted by: Indonesian Children | March 24, 2009

Trend Obat ARV pada tahun 2009

 
sumber : http://www.aidsmeds.com/articles/hiv_drugs_development_2042_16129.shtml  

Para ahli berpendapat bahwa kita akan memasuki masa kekeringan dalam hal pengobatan antiretroviral (ART) baru, tanpa senyawa yang benar-benar baru untuk pasien yang berpengalaman dengan pengobatan dalam beberapa tahun yang akan datang. Namun, mereka tetap berharap bahwa teknologi baru dan jalur penelitian akan memicu lompatan besar berikutnya.

Ilmu HIV merupakan gabungan ilmu. Penelitian terhadap vaksin yang efektif senantiasa mengalami kegagalan, dan sering kali tidak tampak kian dekat dengan penyembuhan saat ini dibandingkan waktu virus pertama kali ditemukan pada lebih dari 25 tahun lalu. Namun dengan ART – obat untuk mencapai penatalaksanaan penyakit dalam jangka panjang – kita sudah beruntung. Dalam 25 tahun yang sama, Badan Pengawas Makanan dan Obat (FDA) AS sudah menyetujui 20 jenis obat, empat di antaranya disetujui pada tiga tahun yang lalu.

Namun, saat ini, calon obat yang begitu banyak mendapat rintangan. Tidak ada pengobatan baru yang sedang dalam penelitian yang sungguh-sungguh inovatif melampaui tahapan paling awal pada uji coba terhadap manusia – artinya memerlukan beberapa tahun sebelum obat tersebut dapat diresepkan untuk Odha yang paling berpengalaman dengan pengobatan yang paling membutuhkannya.

Para ahli yang selama ini mengamati pengembangan ART di seluruh dunia selama hampir dua dasawarsa menyatakan keprihatinannya tentang stadium penelitian AIDS dan kemungkinan tidak ada obat baru dalam waktu dekat. Mereka menyatakan bahwa jalur persetujuan FDA kian lebih menantang bagi ART, ditambah dengan kenyataan bahwa pasar telah kian dipenuhi dengan obat yang pada umumnya berhasil lumayan baik selama beberapa tahun.

Hal itu tidak berarti bahwa para peneliti atau perusahaan obat, telah putus asa dengan HIV. Aktivis dan para peneliti yang dihubungi oleh AIDSmeds mengatakan ada dasar untuk tetap berharap. Hanya saja pengobatan yang tampak paling menarik saat ini masih jauh dari kepastian, khususnya dalam industri di mana sebagian besar obat yang tampak memberi harapan dalam penelitian awal tidak berhasil dalam uji coba klinis lanjut.

Walau pandangan jangka pendek itu tampak menyedihkan, orang tetap memiliki harapan untuk masa depan. Berikut ini adalah kumpulan obat yang masih dalam penelitian – dan cara baru untuk memakai ART yang ada – yang oleh beberapa peneliti dan aktivis ART ditentukan sebagai obat yang paling menarik untuk diamati pada 2009.

Obat yang akan selesai diteliti

Sejumlah obat yang mungkin berhasil untuk pasien yang paling berpengalaman dengan pengobatan telah berhasil melewati rintangan awal pengembangan obat. Mereka memasukkan dua entry inhibitor yang dikenal sebagai ibalizumab dan PRO 140; NRTI yang disebut amdoxovir; dan bevirimat, maturation inhibitor. Seluruh obat tersebut telah melewati uji coba fase I dan sedang dalam uji coba klinis atau penelitian mula-mula untuk menentukan dosis awal, keamanan dan efektivitasnya. IDX-899, baru dibeli oleh GlaxoSmithKline untuk pengembangan lebih lanjut, adalah NNRTI yang mungkin berhasil untuk pasien dengan HIV yang resistan terhadap NNRTI yang ada saat ini.

Obat lama, kemasan dan metoda baru

Bob Huff, penanggung jawab advokasi antiretroviral (ARV) dari Treatment Action Group (TAG) di New York City, mengatakan dia paling tertarik untuk “mengamati penelitian tentang strategi baru dalam ART, yang paling utama di antaranya adalah kombinasi yang tidak memakai obat dari golongan NRTI.”

Huff menunjuk penelitian yang saat ini sedang mencari atau akan segera dimulai yang mengganti integrase inhibitor contohnya raltegravir atau entry inhibitor contohnya maraviroc untuk NRTI contohnya Truvada (tenofovir plus emtricitabine.) Dia berpendapat bahwa kemungkinan obat itu memiliki efek samping jangka panjang adalah lebih rendah, karena sesungguhnya NRTI mungkin dapat merusak DNA sel.

Jalur penelitian yang menarik bagi Steven Becker. MD, seorang peneliti AIDS dan konsultan perusahaan obat dari Seattle, AS adalah teknologi pemberian obat yang baru. Satu yang secara khusus dirasakannya memberi harapan adalah sebuah cara khusus untuk formulasi NRTI tenofovir agar supaya obat itu jauh lebih siap diserap oleh molekul lemak pada permukaan sel CD4. Formulasi baru ini sedang dikembangkan oleh Chimerix yang bekerja sama dengan produsen tenofovir, Gilead Sciences, dan memungkinkan dokter untuk memakai dosis obat yang lebih rendah secara bermakna, yang kemungkinan dapat mengurangi efek samping.

Becker juga melihat harapan besar pada teknologi nano, yang sedang diselidiki oleh beberapa perusahaan sebagai cara untuk membuat obat yang hanya perlu dipakai secara mingguan atau sekali sebulan.

Bob Munk, aktivis pengobatan yang sudah lama dari New Mexico, mengatakan bahwa dia tertarik dengan obat pendorong kekebalan yang juga memiliki mekanisme pengantar yang baru – melalui kulit. Obat itu, yang disebut DermaVir, diberikan melalui tempelan pada kulit yang serupa dengan tempelan nikotin. Saat ini obat itu dalam penelitian fase II. Para peneliti berharap bahwa DermaVir dapat membantu sel CD4 dan CD8 seseorang untuk melawan HIV secara efektif.

Pendukung yang baru

Satu jenis obat lain yang dapat memberi napas baru pada obat cadangan yang lama – serta juga beberapa obat yang lebih baru dalam golongan itu – disebut penguat farmakokinetik (pharmacokinetic/PK). Obat itu khusus dipakai untuk menguatkan tingkat obat lain dalam darah. Saat ini, satu-satunya obat jenis itu yang sudah dipakai adalah ritonavir, yang sayangnya juga meningkatkan tingkat kolesterol dan trigliserid – bahkan pada dosis yang lebih rendah.

Dilaporkan dalam Conference on Retroviruses and Opportunistic Infections (CROI) ke-16 di Montreal, Kanada adalah dua penguat PK yang baru, satu dari Gilead Sciences dan satu lagi dari Sequoia Pharmaceuticals. Kedua perusahaan itu mempresentasikan data tentang penguat PK buatan mereka dari penelitian fase I terhadap relawan yang HIV-negatif. Penelitian itu dilakukan untuk menyediakan pengamatan awal tentang keamanan dan bukti bahwa obat itu bekerja sebagaimana mestinya. Gilead melaporkan mereka akan mengembangkan penguat obat yang disebut GS 9350, bersamaan dengan integrase inhibitor, elvitegravir (yang saat ini membutuhkan penguat ritonavir), dan keduanya akan dibuat sebagai pil empat-dalam-satu yang juga mengandung tenofovir and emtricitabine. Kemungkinan bahwa obat buatan Sequoia, yang disebut SPI-452, mungkin juga dikoformulasi dengan ARV lain tergantung pada penguatnya.

Memulihkan serangan virus

Sistem kekebalan manusia sesungguhnya memiliki sejumlah metode yang efektif untuk mengendalikan penularan virus. Salah satunya adalah protein yang disebut APOBEC-3G. Beberapa tahun belakangan ini, para ilmuwan telah menemukan bahwa APOBEC-3G ampuh untuk menghentikan reproduksi banyak virus dari keluarga lentivirus, yang termasuk HIV. Virus semacam itu telah mengubah protein mereka sendiri yang disebut protein VIF, untuk mematikan APOBEC-3G.

David Margolis. MD, peneliti AIDS Universitas North Carolina di Chapel Hill, AS berpendapat bahwa obat yang dapat menawar VIF memberi harapan besar dalam jangka panjang. Dia mengatakan dia akan giat memantau penelitian APOBEC-3G dan VIF tahun depan.

Pengatur canggih

Sebuah temuan lain baru-baru ini adalah peran sel reseptor yang disebut kematian sel yang terencana (programmed cell death 1/PD-1) pada Odha yang bertahan hidup lama. Para ilmuwan berpendapat bahwa reseptor tersebut – yang dapat memicu penyebab penghancuran sel sendiri – adalah unsur penting untuk melindungi tubuh dari penyakit yang menyebabkan sistem kekebalan menyerang tubuh orang itu sendiri. Namun, keberadaan reseptor itu pada sel yang terinfeksi virus, tampak membawa akibat buruk, mengakibatkan sindrom yang disebut kehabisan sel-T. Dalam kasus tersebut, sistem kekebalan tidak mampu lagi mengendalikan penularan virus secara sesuai.

Tim peneliti yang selama ini meneliti ciri-ciri sekelompok orang yang mampu mengendalikan reproduksi HIV untuk jangka waktu yang panjang tanpa ARV – disebut pengendali elit – menemukan ciri-ciri yang umum: sel CD4 dan CD8 mereka cenderung tidak memiliki sangat banyak reseptor PD-1 pada permukaannya dibandingkan orang yang tidak mengendalikan virus dengan baik.

Richard Jefferys, yang memimpin advokasi penelitian kekebalan dan vaksin di TAG, tidak sabar untuk melihat apa yang akan terjadi dengan obat yang menghambat PD-1. Baru pada 2008, para peneliti dari Universitas Emory di Atlanta menemukan bahwa sel kekebalan pada kera yang terinfeksi oleh virus perusak kekebalan pada kera (simian immunodeficiency virus/SIV) adalah jauh lebih efektif apabila kera itu diberikan antibodi yang menghambat PD-1. Selain itu, kera yang memiliki antibodi tersebut hidup lebih lama dibandingkan kera yang tidak memilikinya.

Jefferys mengakui bahwa masih sangat jauh dari kera dengan SIV hingga manusia dengan HIV, tetapi dia berharap pada perusahaan obat contohnya Medarex yang mengembangkan antibodi PD-1 untuk dipakai melawan HIV dan penyakit lain.

 

Supported by

FIGHT AGAINST  AIDS, SAVE  INDONESIAN CHILDREN

YUDHASMARA FOUNDATION

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

PHONE :62 (021) 70081995 – 5703646

Email : judarwanto@gmail.com

https://childrenhivaids.wordpress.com/

 

Clinical and Editor in Chief :

DR WIDODO JUDARWANTO

email : judarwanto@gmail.com,

 

Copyright © 2009,  FIGHT AGAINST  AIDS, SAVE  INDONESIAN CHILDREN  Information Education Network. All rights reserved.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: