Posted by: Indonesian Children | March 23, 2009

Menyusui bagi ibu HIV-positif yang memakai ART di Botswana tidak berdampak pada mortalitas


The effect of breast feeding vs formula feeding on maternal HIV disease progression, mortality, and micronutrient levels in a 1200-person randomized trial, Botswana.  

Sebuah uji coba terkontrol secara acak dan prospektif pada 1.200 ibu HIV-positif di Botswana tidak menemukan perbedaan pada mortalitas di antara ibu yang menyusui dan ibu yang memberi susu formula. Pola penurunan jumlah CD4 secara lebih cepat mulai muncul beberapa tahun setelah berhenti menyusui, tetapi hal itu tidak bermakna secara statistik dan maknanya tidak diketahui.

Temuan tersebut dipresentasikan dalam Conference on Retroviruses and Opportunistic Infections ke-16 pada 11 Februari 2009 oleh Shahin Lockman dari Brigham and Women’s Hospital, Boston, AS, mewakili tim peneliti AS/Botswana.

Beberapa penelitian sekarang sudah mengamati dampak menyusui terhadap kesehatan ibu yang HIV-positif. Hasilnya bertentangan, uji coba secara acak yang pertama menunjukkan bahwa tingkat mortalitas ibu yang menyusui tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan ibu yang memberi susu formula.

Namun, penelitian pengamatan kohort selanjutnya tidak menemukan pengembangan penyakit yang memburuk pada ibu yang menyusui, atau penurunan jumlah CD4 yang lebih cepat dan indeks massa tubuh tetapi tidak ada dampak pada viral load atau mortalitas secara keseluruhan.

Lockman menunjukkan bahwa dalam kohort penelitian tersebut, ibu yang lebih sakit dapat memilih untuk tidak menyusui, membaurkan dampak hasil nyata yang lebih baik pada ibu yang menyusui. Juga, banyak penelitian tidak mengamati hasil kesehatan selain hasil yang paling sederhana – risiko kematian.

Penelitian yang dipresentasikan oleh Lockman adalah sebuah subpenelitian MASHI di Botswana penelitian pencegahan penularan dari ibu-ke-bayi (prevention of mother-to-child transmission/PMTCT). Dalam penelitian MASHI, 1.200 ibu hamil yang HIV-positif ditunjukkan secara acak untuk menyusui selama enam bulan dengan perpanjangan profilaksis bayi dengan AZT (sapih dimulai kurang lebih lima bulan), atau memberi susu formula. Ibu dilibatkan antara 2001 dan 2003 dan ditindaklanjuti selama tujuh tahun; antiretroviral ART (ART) disediakan untuk peserta yang memenuhi kriteria selama penunjukan.

Dalam subpenelitian, status kesehatan peserta ditindaklanjuti selama median 54 bulan, termasuk jumlah CD4, viral load HIV dan (dalam subsampel secara acak pada 131 ibu) tingkat gizimikro (vitamin B12, A, dan E serta selenium), albumin, dan protein C-reaktif (CRP).

Ada 1.200 ibu yang dikelompokkan secara acak, 598 untuk menyusui dan 602 memberi susu formula, dengan ciri-ciri yang sangat serupa di antara kedua kelompok. Kepatuhan dalam kelompok penelitian sangat baik, dengan 93% ibu yang memberi susu formula sama sekali tidak menyusui, dan 95% dalam kelompok menyusui mulai menyusui. (Namun, hanya 18% yang menyusui secara eksklusif selama lima bulan atau lebih.)

Median jumlah CD4 pada awal adalah 366 dan median viral load adalah 4,4 log. Titik akhir primer adalah waktu terjadi kematian, penyakit terdefinisi AIDS, atau penurunan jumlah CD4 menjadi 200. (Ibu yang memenuhi kriteria untuk ART ditawarkan, dan 40% memakai ART.)

Hasil

Ada 372 (31%) ibu yang berlanjut pada satu titik akhir penelitian – 204 (34%) dalam kelompok menyusui dan 168 (28%) dalam kelompok yang memberi susu formula. Perbedaan itu tidak bermakna secara statistik (p = 0,08).

Tingkat mortalitas tidak berbeda di antara kelompok: 3% ibu di tiap kelompok meninggal dalam masa tindak lanjut penelitian. Perbedaan tampak muncul pada penurunan CD4 menjadi <200 (25% dalam kelompok menyusui banding 21% dalam kelompok yang memberi susu formula) dan diagnosis AIDS (6% dalam kelompok menyusui banding 3% dalam kelompok yang memberi susu formula). Median viral load HIV tidak berbeda di antara kelompok pada enam, 12, atau 60 bulan.

Dengan analisis multivariat, jumlah CD4 pada awal ≥ 350 adalah melindungi terhadap pengembangan (rasio hazard yang disesuaikan [adjusted hazard ratio/AHR], 0,54; confidence interval [CI]: 95%, 0,43-0,68; p < 0,01), serupa dengan pendidikan (AHR, 0,59; CI: 95%; 0,43-0,68; p < 0,01). Viral load yang lebih tinggi (di atas median) adalah faktor risiko terhadap pengembangan (AHR, 1,42; CI: 95%; 1,14-1,77; p < 0,01). Pemberian susu formula bukan faktor risiko (HR yang tidak disesuaikan, 0,83; CI: 95%; 0,68-1,02; p = 0,08).

Kecenderungan pengembangan penyakit yang lebih cepat mulai muncul pada ibu yang menyusui, tetapi tidak bermakna secara statistik, dan hanya mulai muncul pada kurang lebih 30 bulan setelah berhenti menyusui. Enam bulan pascakelahiran, tingkat vitamin A, B12, E, selenium, dan albumin dalam darah tidak berbeda secara bermakna di antara kelompok tersebut. Satu-satunya perbedaan yang bermakna tampak pada protein C-reaktif (CRP) – tanda peradangan yang prediktif sebagai pengembangan penyakit pada ibu.

Median tingkat CRP lebih tinggi pada ibu yang menyusui dibandingkan ibu yang memberi susu formula (2,28mg/l banding 1,05mg/l; p<0,01) dan di antara ibu yang mengalami titik akhir (1,77mg/l banding 0,77mg/l; p < 0,01).

Lockman menyimpulkan bahwa menyusui tidak dikaitkan dengan pemburukan mortalitas ibu yang memiliki akses pada ART, walaupun tim peneliti menemukan tingkat CRP yang lebih tinggi – temuan yang “menarik” yang sebelumnya belum pernah diselidiki. Kecenderungan “membingungkan” pada pengembangan penyakit yang lebih cepat pada ibu yang menyusui setelah berhenti menyusui, dianggap sebagai “temuan palsu atau sesuatu yang mencerminkan patologi yang belum kami pahami.” Mungkin juga perbedaan yang lebih besar akan terlihat dengan masa menyusui yang lebih lama daripada hanya dalam jangka pendek lima bulan yang diamati dalam penelitian itu.

Para peneliti merencanakan tambahan analisis termasuk kejadian lain, diagnosis tidak terdefinisi AIDS, berat badan dan CRP pada titik waktu yang lebih lambat.

REFERENSI  : Lockman S et al. The effect of breast feeding vs formula feeding on maternal HIV disease progression, mortality, and micronutrient levels in a 1200-person randomized trial, Botswana. Sixteenth Conference on Retroviruses and Opportunistic Infections, Montreal, abstract 176, 2009.

Supported by

FIGHT AGAINST  AIDS, SAVE  INDONESIAN CHILDREN

YUDHASMARA FOUNDATION

JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210

PHONE :62 (021) 70081995 – 5703646

Email : judarwanto@gmail.com

https://childrenhivaids.wordpress.com/

 

Clinical and Editor in Chief :

DR WIDODO JUDARWANTO

email : judarwanto@gmail.com,

 

Copyright © 2009,  FIGHT AGAINST  AIDS, SAVE  INDONESIAN CHILDREN  Information Education Network. All rights reserved.


Responses

  1. good topic. i like the blog


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: