Posted by: Indonesian Children | January 14, 2009

WASPADAI AIDS MENGANCAM ANAK DAN GENERASI MUDA

HIV DAN AIDS MENGANCAM GENERASI MUDA
Dr Widodo Judarwanto SpA

Hari AIDS Sedunia yang jatuh tanggal 1 Desember digagas pada pertemuan menteri kesehatan sedunia mengenai program-program untuk Pencegahan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) pada tahun 1988. Momentum itu selanjutnya diperingati untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Generasi muda termasuk anak-anak ternyata menjadi ancaman terbesar terkena infeksi yang berbahaya ini. Sebagian besar kasus HIV AIDS di Indonesia adalah usia 20-29 tahun dan sebagian anak sudah mulai terjangkit.
HIV dan AIDS adalah masalah darurat global. Di seluruh dunia lebih dari 20 juta orang meninggal sementara 40 juta orang telah terinfeksi. Fakta yang lebih memprihatinkan adalah bahwa di seluruh dunia setiap hari virus HIV menular kepada sekitar 20.00 anak di bawah 15 tahun, terutama berasal dari penularan ibu-bayi, menewaskan 1400 anak di bawah 15 tahun, dan menginfeksi lebih dari 6000 orang muda dalam usia produktif antara 15-24 tahun yang juga merupakan mayoritas dari orang-orang yang hidup dengan HIV dan AIDS (ODHA).

MENGANCAM GENERASI MUDA INDONESIA
Ancaman penyakit ini terhadap generasi muda cukup memprihatinkan. Menurut data Departemen Kesehatan, di Indonesia sampai dengan 30 Juni 2008 secara kumulatif jumlah kasus AIDS yang dilaporkan adalah 12.686 orang kasus dan HIV 6.277 orang. Distribusi usia penderita AIDS pada 2008 memperlihatkan tingginya persentase jumlah usia muda dan jumlah usia anak. Penderita dari golongan usia 20-29 tahun mencapai 53,62%, dan bila digabung dengan golongan usia sampai 49 tahun, maka angka menjadi 89,27 %.
Dengan semakin banyak generasi muda yang terinfeksi HIV, semakin banyak anak juga terlahir dengan HIV. Sebagian besar anak di bawah usia sepuluh tahun yang terinfeksi HIV tertular oleh ibunya. Penularan dapat terjadi dalam kandungan, waktu melahirkan atau melalui menyusui. Hingga bulan Juni 2008, departemen kesehatan mendapatkan laporan anak yang terkena AIDS usia dibawah 14 tahun adalah sebanyak 228 anak dengan rincian dibawah usia 1 tahun 62 orang, usia 1-4 tahun 129 orang dan usia 5-14 tahun 47 orang. Angka kematian bayi umumnya di Indonesia dilaporkan hampir 35 per 1.000 lahir hidup pada 2006. Diluar laporan tersebut diperkirakan sebanyak 4.360 anak tertular HIV dari ibunya yang HIV positif dan separuhnya telah meninggal. Diperkirakan bahwa setiap hari sepuluh bayi terlahir dengan HIV. Kesehatan bayi tersebut paling rentan pada tahun pertama kehidupannya, dan kemungkinan sepertiganya meninggal dunia sebelum berusia satu tahun. Kejadian tersebut umumnya tanpa sempat didiagnosis HIV.
Para ahli epidemiologi Indonesia memproyeksikan bila tidak ada peningkatan upaya penanggulangan yang berarti, maka pada 2010 jumlah kasus AIDS menjadi 400.000 orang dengan kematian 100.000 orang, dan pada 2015 menjadi 1.000.000 orang dengan kematian 350.000 orang. Kebanyakan penularan tetap terjadi pada sub-populasi berperilaku berisiko kepada isteri atau pasangannya. Diperkirakan pada akhir 2015 akan terjadi penularan HIV secara kumulatif pada lebih dari 38,500 anak yang dilahirkan dari ibu yang HIV positif.
DAMPAK YANG DITIMBULKAN
HIV dan AIDS merupakan salah satu ancaman terbesar terhadap pembangunan sosial ekonomi, stabilitas dan keamanan pada negara berkembang termasuk Indonesia. HIV dan AIDS telah menyebabkan kertepurukan masalah sosial dan ekonomi di tengah resesi dunia ini..
Mortalitas yang tinggi di kalangan pengidap AIDS akan meningkatkan jumlah anak yatim dan piatu. Anak-anak ini akan menghadapi problema hidup tidak saja dari aspek kesehatan, tetapi juga dari aspek psikososial dan ekonomi. Dampak sosial adalah sebagian mengalami keretakan rumah tangga sampai perceraian. Jumlah anak yang terinfeksi HIV, anak yang terafeksi HIV dan AIDS dan anak yatim serta piatu akan bertambah yang akan menimbulkan masalah tersendiri
Salah satu efek jangka panjang endemi HIV dan AIDS yang telah meluas adalah dampak pada indikator demografi. Karena tingginya proporsi kelompok umur yang lebih muda terkena penyakit yang membahayakan ini, dapat diperkirakan nantinya akan menurunkan angka harapan hidup. Karena semakin banyak orang yang diperkirakan hidup dalam jangka waktu yang lebih pendek, kontribusi yang diharapkan dari mereka pada ekonomi nasional dan perkembangan sosial menjadi semakin kecil. Hal ini menjadi masalah yang penting karena hilangnya individu yang terlatih dalam jumlah besar tidak akan mudah digantikan. Mengingat bahwa HIV lebih banyak menjangkiti orang muda dan mereka yang berada pada umur produktif epidemi HIV dan AIDS memiliki dampak yang besar pada ketersediaan dan produktivitas angkatan kerja.
HIV lebih banyak menjangkiti orang muda dan pada umur produktif sehingga epidemi HIV dan AIDS memiliki dampak yang besar pada ketersediaan dan produktivitas angkatan kerja. Dari sudut pandang individu HIV dan AIDS berarti tidak dapat masuk kerja, jumlah hari kerja yang berkurang, kesempatan yang terbatas untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih baik dan umur masa produktif yang lebih pendek.
Dampak pada dunia bisnis termasuk hilangnya produktivitas yang diakibatkan oleh berkurangnya semangat kerja, meningkatnya ketidakhadiran karena izin sakit atau merawat anggota keluarga dan percepatan masa penggantian pekerja karena kehilangan pekerja yang berpengalaman lebih cepat dari yang seharusnya. HIV AIDS juga berperan dalam berkurangnya motivasi pekerja karena takut akan diskriminasi, kehilangan rekan kerja, rasa khawatir penularan dan akibat meningkatnya permintaan untuk biaya perawatan medis.

PENANGGULANGAN
Di masa mendatang tantangan yang dihadapi dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS semakin besar dan rumit sehingga diperlukan strategi baru untuk menghadapinya. Paradigma baru dalam upaya penanggulangan di Indonesia dari upaya yang semula cenderung berjalan sendiri-sendiri menjadi upaya yang komprehensif, terpadu, dan diselenggarakan secara sinergis oleh semua stakeholders atau pemangku kepentingan.

Cara paling efisien dan efektif untuk menanggulangi infeksi HIV pada anak secara universal adalah dengan mengurangi penularan dari ibu ke anaknya (mother-to-child transmission (MTCT). Upaya pencegahan transmisi HIV pada anak menurut WHO dilakukan melalui 4 strategi, yaitu mencegah penularan HIV pada wanita usia subur, mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada wanita HIV, mencegah penularan HIV dari ibu HIV hamil ke anak yang akan dilahirkannya dan memberikan dukungan, layanan dan perawatan berkesinambungan bagi pengidap HIV. Angka kematian bayi akibat HIV dapat dikurangi dengan diagnosis dini, pencegahan infeksi oportunistik, dan terapi antiretroviral (ART). Penelitian menunjukkan dengan upaya tersebut meningkatkan harapan hidup sampai tua, seperti dengan orang dewasa.
Peningkatan kasus HIV AIDS harus disertai peningkatan keterlibatan dokter khususnya dokter spesialis kandungan, dokter anak dan tenaga medis lainnya dalam deteksi dan pencegahan dini. Masyarakat khususnya yang beresiko terinfeksi HIV hendaknya juga turut aktif dalam pencegahan penularan HIV pada bayi yang akan dilahirkan. Skrening atau pemeriksan awal HIV pada Ibu hamil yang beresiko harus sudah menjadi tindakan rutin.
Satu aspek yang penting dalam pencegahan HIV adalah proritas pada kelompok remaja dan dewasa muda. Hal ini sejalan pula dengan fakta bahwa penularan HIV terbanyak melalui jarum suntik atau penyalahgunaan obat terlarang yang banyak dilakukan remaja dan dewasa muda. Hampir 30% populasi Indonesia berumur antara 10 sampai 24 tahun, dan mereka ini seharusnya menjadi sasaran edukasi dan penyuluhan yang benar agar tidak masuk kedalam sub-populasi berperilaku risiko tinggi. Kontak seksual dini membawa resiko tinggi infeksi HIV. Banyak survey mengungkapkan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa pengalaman seksual pertama mereka dimulai pada usia yang sangat muda atau sekitar usai 13-15 tahun. Jangan sampai hanya karena kegagalan pencegahan tersebut, generasi muda Indonesia nantinya akan mewarisi generasi HIV AIDS.

Supported  by
FIGHT AGAINTS AIDS,
SAVE INDONESIAN CHILDRENS

Yudhasmara Foundation

Working together against HIV and AIDS in Indonesia, Save our Children From HIV-AIDS

 

Office ; JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 10210

phone : 62(021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com,

https://childrenhivaids.wordpress.com/

 

 

 

Editor in Chief :

Dr WIDODO JUDARWANTO

phone : 62(021) 70081995 – 62(021) 5703646, mobile : 0817171764

email : judarwanto@gmail.com

 

 

Copyright © 2009, Fight Against Aids, Save Indonesian Childrens Information Education Network. All rights reserved.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: